Biografi Ayah
Oleh : Fitrihanna
Husaini Syamaun itulah
bagaimana orang-orang memanggilnya. Ia adalah salah satu dari 6 anugerah
terbesar yang Tuhan berikan kepada pasangan Syamaun dan Ramlah. Husaini
merupakan seorang laki-laki kuat yang lahir di Sigli,15 Mei 1960. Orang
tua Husaini sangat bersyukur memiliki Husaini dan cara mereka untuk
mewujudkannya yaitu dengan mendidik buah hati mereka sebaik mungkin. Baik bukan
dalam arti dapat memberikan harta yang banyak, tapi bagaimana mereka mampu memberikan
cinta dan mempersiapkannya menghadapi medan perang. Ya, Husaini
sejak kecil sudah dididik untuk mandiri, orang tuanya yakin akan hadirnya medan
kehidupan yang lebih sulit kedepannya.
Husaini kecil diajarkan
untuk bisa bertahan dalam kehidupan yang sebenarnya. Ia diajarkan banyak hal. Menyadari
agama adalah yang utama, maka husaini kecil diantarkan mengaji oleh orang
tuanya, bahkan sebelum ia mengenal apa itu sekolah. Sudut pandangnya soal hidup
pun dibuka lebih luas, ia selalu dituntut untuk bersikap baik terhadap orang
lain, ia diajarkan bagaimana pentingnya hubungan sosial dan arti tolong
menolong itu. Mereka tidak ingin Husaini tumbuh menjadi anak yang hanya mementingkan
akademik. Mereka ingin Husaini sukses dan mereka tahu sukses itu bukan hanya
soal akademik.
Husaini kecil selalu di
tuntut untuk dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang mungkin
belum dapat dikerjakan oleh anak sebayanya. Ia akan menyapu rumah ketika pagi
hari, setelah itu mencuci hingga menyetrika baju miliknya dan adik-adiknya, mencari
ikan di sungai depan rumah, dll. Menjadi anak yang paling tua
mengharuskan Husaini untuk selalu memegang tanggung jawab terhadap
adik-adiknya. Ia sangat menyayangi ke-5 adik-adiknya, sesekali ia menggantikan
peranan orang tuanya terhadap adik-adiknya. Ia memberikan mereka perhatian dan
kasih sayang yang mungkin tidak sempat diberi orangtuanya, ia mengajarkan
adiknya, mengajak adiknya bermain sampai menidurkan mereka. Itulah alasan
mengapa dia dan adik-adiknya memiliki ikatan yang sangat erat. Walau
sayang salah satu adiknya harus meninggal dunia pada usia sangat muda karena
penyakit yang dideritanya.
Suatu hari orangtua husaini pergi meninggalkan
rumah dan Husaini diminta menjaga adik-adiknya. Ketika itu adiknya yang ke-3 menangis
terus tanpa henti, ia mencoba menidurkannya di ayun, mengayunnya sambil
menyanyikannya lagu dan selawat, mencoba segala hal yang ia bisa, tapi adiknya
tidak kunjung berhenti menangis. Husaini merasa kasihan, dicobanya memberi
susu, tapi tidak juga berhenti. Akhirnya Husaini kecil pun ikut menangis pada
saat itu. Baru setelah kepergian adiknyalah Husaini sadar bahwa sakitlah yang
dirasakan adiknya selama ini.
Sejak kecil Husaini
dikenal sebagai anak yang cekatan dan cerdas, ia memulai rautan pensil
pertamanya di SDN 1 Sigli. Saat menduduki bangku kelas 5, ia diantarkan oleh
kedua orang tuanya ke sebuah pesantren yang cukup jauh dari tempatnya
tinggalnya. Tentu saja tinggal jauh dari orang tua mengharuskan Husaini untuk
hidup lebih mandiri lagi . Ia tetap harus mencuci dan menyetrika bajunya
sendiri, membuat arang sendiri, bahkan berbelanja dan memasak menu makan sehari
sendiri. Pada pagi hari buta, Husaini akan berbelanja di pasar, kemudian
memasaknya. Sebagian masakannya ia makan langsung dan sisanya ia simpan untuk dimakan
pada siang hari. Setelah pulang sekolah, ia akan makan siang dengan nasi dingin
tadi sambil menyaksikan keindahan sawah. Nasinya memang dingin, lauknya juga
hanya ikan goreng dan kuah bening, tapi Husaini selalu bersyukur, Tuhan masih mengizinkannya
makan.
Fakta bahwa pesantren
yang Husaini tinggali bukanlah sebuah sekolah membuatnya harus mengayuh pedal
sepedanya sejauh 2 x 6 km setiap harinya. Kerja keras Husaini kecil tidak sampai disitu
saja, pada hari-hari libur ataupun musim sawah, Husaini akan kembali ke daerah
tempat tinggalnya untuk berbakti dan membantu orang tuanya. Karena, meskipun
hidup terpisah dari orang tuanya, ia sadar bahwa ia masih tetap memiliki
beberapa kewajiban terhadap mereka seperti, menabur benih padi, melumpur,
membersihkan rumput di pematang, merontokkan padi, menjaga padi dari burung
pipit, mengangkut padi, memasak, mencari kerang ataupun sekadar menjaga
adik-adiknya.
Husaini selalu bisa
menikmati apa yang sedang dijalaninya, ia periang, dan pandai bergaul. Ia pun
terkenal sebagai anak yang penurut dan pandai mengelola waktu. Dibalik semua
kesibukan dan tanggung jawab yang dibebankan orang tuanya kepadanya, Husaini
masih sempat meluangkan waktu untuk bermain bola, sama seperti anak-anak seusianya.
Husaini juga selalu menyisihkan waktunya untuk beribadah, suaranya yang merdu
membuat Husaini menjadi pemenang di beberapa perlombaan MTQ pada hari besar
agama Islam. Ia juga sering diajak oleh ustad untuk ikut pergi berzikir atau meulike
di acara-acara tertentu.
Semua aktivitas tersebut
Husaini lakukan terus-menerus sampai akhirnya ia duduk di bangku SMA. Ia tidak
pernah mengeluh, padahal saat SMA dia harus mengayuh sepeda lebih jauh 2 km
dari sebelumnya. Pada saat kelas 3 SMA, Husaini memutuskan untuk mengubah jalan
hidupnya. Ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi merantau ke tanah Jawa
tepatnya di Yogyakarta, sebuah tempat yang dijuluki sebagai kota bagi pelajar.
Awalnya, Husaini tidak
tega mengatakan betapa mahalnya biaya masuk ke SMA kepada orang tuanya. Tiap
malam ia menunaikan salat tahajud, berzikir, dan memanjatkan doa. Pelan-pelan
muncul keyakinan dalam hatinya, ia yakin bahwa “nothing is imposible”, kita
akan jadi apa yang kita percayai, selama kita percaya maka semua akan terjadi.
Dan Husaini muda percaya, ia mengusahakan segala cara agar ia bisa masuk tanpa
perlu membayar.
Akhirnya Husaini bisa lulus ke sebuah SMA favorit
di Yogyakarta, yaitu SMAN IV Yogyakarta, tanpa perlu membayar. Masuk ke sana, Husaini
muda awalnya sedikit diremehkan, bagaimana tidak, seorang pemuda naif dengan
paras yang lusuh, datang dari entah berantah Indonesia tiba-tiba saja masuk ke
sebuah sekolah yang terpandang dan berkelas. Tapi Tuhan berkata lain, beberapa
minggu kemudian sekolah tersebut mengadakan perlombaan azan, pidato, dan MTQ
dalam rangka hari besar agama Islam. Husaini dengan yakinnya mengikuti ke tiga
lomba tersebut dan ia pun berhasil menjadi juara satu untuk ke tiga cabang
lomba. Sejak saat itulah ia akhirnya mulai bisa beradaptasi, teman-temannya mulai
meliriknya. Guru-guru pun mengenal kesopanan dan tingkah lakunya yang baik,
meskipun akademiknya tidak sebanding dengan teman-teman Jawanya yang lain.
Setelah tamat SMA,
Husaini melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada tepatnya di
Fakultas Kehutanan. Husaini sering menjadi imam di masjid-masjid sekitar asrama
tempat tinggalnya dan mendapatkan sedikit uang saku dari sana. Husaini tetap
disiplin semasa kuliah, karena kedisiplinannyalah ia pernah dipercaya menjadi
ketua asrama Merapi 2, ketua Yayasan Cut Nyak Dhien dan bendahara senat
mahasiswa di universitasnya. Ia juga merupakan ketua Taman Pelajar Aceh di Yogyakarta.
Husaini adalah seorang
yang hebat. Beban kehidupan yang dilaluinya berhasil membuatnya menjadi orang
yang memiliki softskill yang tinggi.
Ia menjadi pemimpin, sekaligus ayah yang baik. Ia membuktikan bahwa IQ bukanlah
yang utama dalam menjalani hidup, sekolah memang penting, tapi jangan pernah
melupakan agama dan hubungan sosialmu.
Sekali lagi, orang
memanggilnya dengan Husaini, tapi aku memilih untuk memanggilnya dengan
panggilan ayah.
“Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tapi dengan bersyukurlah kita
akan bahagia.”
-Husaini Syamaun
Biografi ini dibuat pada tanggal 20 april 2017
Komentar
Posting Komentar